BUAT KAMU YANG MAU BERORGANISASI DI KAMPUS

Berawal dari pertanyaan mengenai penting atau tidak berorganisasi saat menjadi mahasiswa membuat Saya ingin share ke teman-teman semua ya. I’m not kinda good blogger but thankyou for all you warm question. Btw viewers nambah sekali dan yeay semoga bermanfaat ya.

 

 

Pertama mungkin Saya share dulu pengalaman organisasi Saya selama di kampus, here we are :

  • 2009/2010 : Magang di SENAT Mahasiswa FK YARSI (Dept. PENDPRO)
  • 2010/2011 : Anggota Departemen PENDPRO dan KESMA SENAT Mahasiswa FK   YARSI
  • 2010/2011 : Anggota Divisi PENGMAS UKM KREASI
  • 2010-2013 : Anggota Departemen SYI’AR LDK KAHFI Universitas YARSI
  • 2010/2011 : Anggota Departemen PENDPRO ISMKI (Ikatan Senat Mahasiswa Fakultas   Kedokteran Indonesia) Wilayah II
  • 2011/2012 : Kepala Departemen PENDPRO dan KESMA SENAT Mahasiswa FK YARSI

 

Saya adalah tipe mahasiswa yang banyak sekali memikirkan tugas dan blok di FK yang menurut Saya sulit sekali dipelajari. Saya sempat menemukan titik dimana merasa kalau belajar di FK itu not fun at all tapi benar-benar mencoba usaha lagi, lagi, lagi.

Akhirnya mencoba ikut organisasi yang katanya sih bikin waktu belajar berkurang.

Nyatanya, karena Saya orangnya santai banget saat masuk organisasi waktu Saya jadi lebih ter manage misal rapat sampai sore jadi pasca maghrib Saya harus sudah memulai mengejar tugas Saya. Semuanya jadi on time karena waktu rasanya menjadi penting bagi Saya. Karena kalau tidak pandai mengatur waktu, tugas Saya di kuliah sebagai mahasiswa bisa keteteran.

Saya melihat banyak potensi di sebuah organisasi. Orang-orang yang Saya kenal sebagai mahasiswa yang santai saat di kelas, menjadi yang super duper serius saat di organisasi. Serius membantu membangun diri kita dan sangat berguna di kehidupan sehari-hari.

Tapi ingat kalau kewajiban utama tetap belajar jadi buat yang rajin banget rapat sana-sini tipsnya adalah beli buku agenda dan sticky notes sebagai pengingat agenda kamu. Tempel target mingguan kamu, jadwal rapat kamu, dan deadline tugasmu.

Positifnya lagi adalah menjadi mahasiswa bisa dekat dengan dosen jadi enak banget kalau ada pelajaran yang masih mau di kepo in tinggal ngobrol sembari membicarakan progress organisasi.

Semenjak berorganisasi, Saya merasa kuliah menjadi menyenangkan. Kampus menjadi rumah yang hangat setelah kamar kosan. Kelas menjadi tempat yang ternyata bukan hanya sebagai tempat belajar tapi juga sebagai tempat rapat organisasi. Dan semenjak berorganisasi, stress Saya berkurang sehingga IP Saya meningkat setelah Saya berorganisasi.

Mempunyai teman sesama jurusan yang didapat dari ISMKI juga sesuatu yang seru yaa awalnya bingung harus ngobrol-ngobrol seperti apa tapi lama-lama jadi teman yang sangat menyenangkan.

Jadi gimana agar nilai kita tetap terjaga saat kita berorganisasi?

  1. Jangan baper

Saat ada masalah dalam organisasi, yang kita lakukan adalah mengatasinya sampai selesai dan pikirkan hal tersebut di wadah organisasi. Saat harus kembali memerankan menjadi anak yang taat kepada orang tua sebagai mahasiswa seutuhnya, lupakan hal tadi. Karena, ini susah prakteknya.

  1. Beli buku agenda

Biar buku agendanya menarik, tempelkan sticky notes dan tulis dengan spidol warna-warni yang bida dibeli di abang fotokopi andalan kamu. Tulis deadline organisasi, dan tugas perkuliahan dan tulis juga materi kuliah apa yang kamu rencanakan untuk dipelajari. Beri checklist di setiap list yang sudah tercapai.

  1. Jaga kesehatan

Menjadi organisatoris memang memakan tenaga—pasti kalau yang baca sudah punya organisasi akan bilang iya—dan sebagai anak kost yang makan malam saja jarang, siapkan roti atau minimal biskuit untuk camilan di kost selagi belajar dan mengerjakan hal lainnya. Buah jangan lupa ya (ini prakteknya bagi anak kost susah sih)

  1. Reward

Sebagai mahasiswa yang senang dengan drama korea (hahahaha im not that serious person im in love with korea) Saya pribadi memberi reward kalau sudah bisa mencapai target harian dengan cara boleh nonton drama sampai malam atau sebagainya. Ya lumayan bikin diri sendiri bahagia.

 

Dan pesan terakhir buat yang jadi organisatoris, tetap lihat sekeliling kita. Jaga komunikasi dengan teman terdekat itu penting, jangan ngurusin organisasi saja tapi teman dekat kita contohnya aja teman kost jadi terabaikan. Hehe. GOODLUCK!

salam kangen untuk semafkuy🙂

Tagged , , , , , , , , , ,

JAWABAN PERTANYAAN BUAT KALIAN CALON MAHASISWA KEDOKTERAN

Hai, sorry banget so long for me to answer all those questions dan terima kasih yang sudah mengirimkan pertanyaan baik via blog, via facebook, twitter, instagram, bahkan ada beberapa yang personal chat via line dan whatsapp. Patut diacungi jempol yaa kalian hebat tau sosmed aku hehe.

Agak sibuk belakangan karena pasien banyak dan tugas di RS plus Puskesmas yang numpuk. Tapi Alhamdulillah serius sih jadi dokter itu menyenangkan.

Well, semoga ini menjawab kebanyakan pertanyaan yang masuk ya. Maaf tidak bisa membalas satu per satu.

 

Apakah jurusan lain selain IPA boleh masuk Fakultas Kedokteran?

Setahu Saya, hanya jurusan IPA yang boleh menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran. Jurusan lain seperti IPS, ada mereka yang berasal dari SMK tidak diperbolehkan menjadi mahasiswa FK. Tapi ini based on yang Saya tahu. Boleh di cek di syarat pendaftaran kampus yang mau kamu tuju.

 

Apakah mahasiswa Fakultas Kedokteran wajib tidak buta warna?

Inipun setahu Saya menjadi standar syarat wajib karena maba (mahasiswa baru) wajib menyertakan surat keterangan sehat yang di dalamnya terdapat keterangan bahwa tidak buta warna. Well, di kedokteran akan banyak praktikum yang membutuhkan ketelitian akan warna. Kembali lagi, Saya sarankan untuk menanyakan hal sesimpel ini saat mendaftar.

 

Adakah tes kesehatan gigi bagi calon mahasiswa Fakultas Kedokteran?

Setahu Saya, tidak.

 

Berapa biaya yang dibutuhkan untuk masuk Fakultas Kedokteran?

Wah ini sih beda-beda ya, khusus untuk kampus Saya (Universitas YARSI) kamu bisa datang langsung ke bagian informasi di lantai ground (lantai utama dari pintu masuk utama Kampus YARSI). Karena harganya berbeda tiap angkatan.

Adakah biaya tambahan untuk praktikum? Untuk buku?

Kalau ini beda-beda juga, khusus untuk kampus Saya tidak ada biaya tambahan untuk praktikum. Yang ada hanya biaya awal sebagai jaminan, tapi nanti di akhir dikembalikan (pengembalian uang bisa tidak sejumlah biaya awal apabila mahasiswa memecahkan alat-alat praktikum) ini berlaku di angkatan Saya dan untuk yg sekarang Saya kurang tahu.

Beberapa buku diberikan di kampus Saya (nggak tahu di kampus lain gimana) tapi selebihnya beli sendiri, atau bisa pinjam di perpustakaan.

 

Materi Tes masuk Fakultas Kedokteran?

Materinya standar macam SBMPTN atau SIMAK atau SMUP atau jalur lain yang sekarang namanya aja Saya udah kurang update hehe. Pada dasarnya sih sama saja tapi scoringnya yang setahu Saya menentukan masuk FK atau nggak. Semangat ya belajarnya. Intinya ya belajar hehe.

 

Adakah psikotest?

Pastinya sih yaa karena disini kita juga dinilai sudah siapkah menjadi mahasiswa Kedokteran.

 

Kak, ada tipsnya nggak biar bisa masuk Fakultas Kedokteran?

Tipsnya untuk persiapan test masuk sih mesti belajar banget, kalau sudah masuk di FK tipsnya rajin dan nggak mesti pinter sebetulnya. Sekarang sih menurut Saya lebih enak karena UAN kan sistemnya sudah 100% jujur, jadi kalian bisa lebih fokus untuk pendaftaran kuliah. Semoga diterima di Fakultas Kedokteran yang kalian inginkan ya. Kalau masalah swasta atau negeri sebetulnya sama saja (saat prakteknya karena nggak akan ditanya sama pasien kan dokter lulusan mana). Tapi beberapa memang tetap kekeuh mau negeri ya untuk sekolah. Itu masalah sudut pandang aja. Saya sangat senang kalau banyak pembaca disini yang masuk PTN J

Kalau banyak yang menawarkan bayar sekian dijamin masuk FK yang dituju, itupun Saya menyerahkan kepada masing-masing karena Saya pribadi murni test dan modalnya ya belajar. Hehe. Kembali lagi ke tujuan awal masing-masing mau jadi dokter untuk apa.

 

Kalau ada yang ingin bertanya lagi, comment di bawah ya. Dan mohon maaf jika lama menjawab because im currently in Jawa Timur mepet Jawa Tengah dan sinyal disini kadang kurang mendukung untuk update blog.

Mohon doanya agar diberikan kesehatan disini.

Tagged , , , , , , , ,

hello, been too long!

 

i'm back

sejak tulisanku yang berjudul “buat kamu yang mau masuk fakultas kedokteran” ku publish di blog ini, banyak sekali teman-teman yang menghubungi ke berbagai sosmed. Bisa di follow ya atau personal mailpun boleh🙂

Adventure

INSYAALLAH AKTIF DI KEDUANYA

MOHON DUKUNGANNYA🙂

I WILL SHARE YOU MORE, INSYAALLAH

alhamdulillah sudah dokter

alhamdulillah resmi menjadi

dr. Nandika Nurfitria

terlalu banyak yang Saya harus syukuri di tahun ini

terlalu banyak pengalaman yang telah dialami

terlalu banyak rasa senang yang tersimpan

dan terlalu banyak persahabatan yang terjalin

terimakasih Ya Allah untuk nikmat-Mu

terimakasih ayah dan ibu

terimakasih kedua adik Saya

terimakasih keluarga Saya

terimakasih sahabat dimanapun kalian berada

semoga bertemu dalam keadaan yang lebih baik

yang pasti Allah ridhoi

terimakasi

you.

            Beberapa orang mencari tahu kapan ia menemukan apa yang mereka sebut sebagai kasih sayang, beberapa orang membutakan hati sementara apa yang disebut kasih sayang… setia dimanapun dia berpijak. Saya?

            Well, Saya menganggap kamu sebagai salah satu yang Allah berikan sebagai bentuk lain dari kasih sayang. Selain dari kasih sayang-Nya yang begitu besar untuk Saya, selain dari kasih sayang yang mama papa berikan kepada Saya—yang sangat kamu pahami—dan kasih sayang dari banyak orang, termasuk teman-teman terdekat Saya. Kamu? Ya, kamu bagian dari itu.

            ***

            Sayang?

            Dimana saat kebahagiaan itu datang, hati Saya tersenyum.

            Layaknya pelangi yang tersimpan di balik awan, kala hujan turun.

            Ya, warna.

            Kamu memberi Saya warna, sahabat.

            ***

            Beberapa orang tidak bisa mengekspresikan betapa bahagianya mereka, atau betapa senangnya saat memiliki sahabat yang dekat. Beberapa dengan mudah mengatakan kangen, I love you, atau I miss you.

            Terimakasih karena sudah sangat memahami keadaan Saya, terimakasih begitu paham akan rasa sayang yang orangtua Saya tanamkan kepada anaknya ini, terimakasih paham bahwa Allah sangat sayang pada Saya yang membuat Saya ingin tetap seperti ini, terimakasih membuat Saya si pembenci susu—sudah nggak tahu lagi kapan terakhir minum susu putih—ini akhirnya bisa minum susu lagi.

            Dan, maaf hanya ini yang bisa Saya berikan dan tunjukkan.

            Tetap jadi yang selalu sibuk disana, hingga kesibukanmu menjadikan kamu asyik dengan dunia itu, tetap menjadi kamu yang kreatif hingga yang kamu pikirkan hanya itu, tetap menjadi yang menjaga keluarga. Well, do remember me someday—selfish me.

            ***

Always waiting for something more to come

Always waiting for the Summer sun

To come lighten my days up

Before it is gone

 

Always one step ahead in my mind

And as the time goes by

Everyday seems to cover the meaning

Of the things that I like

 

Then you showed me the moon is new

That there is always time for changing

And to start believing

And I do believe you

 

You know it would be a lie

But I’d like to say at least I

Tried my best, I’m not a coward

I am nothing like that

 

Then show me the moon is new

If that means a lot to you

Well, you know that I’d surely believe you

I will always do

 

Always waiting for something more to come

Always waiting for the Summer sun

To come and you will know it

The reason for all this will show it’s

Meaning and we will believe it

Like I believe in you

***

TERIMAKASIH SAHABAT🙂

*nggaktaudibacatauenggak*

Tagged ,

LOVE.

LOVE

this is a reminder, that remembering you needs no reminder.

Tagged , ,

Teman Saya, Bayu

Cerita ini, cerita dari seorang sahabat Saya. Sahabat yang hanya Saya kenal lewat dunia maya. Sahabat yang berani menceritakan kisahnya, meski kami belum pernah bertemu. Sahabat yang wajahnya saja baru Saya lihat melalui foto. Sebut saja namanya Bayu, Kak Bayu.
Bayu, memiliki seorang ibu hebat yang mampu membesarkannya sampai menjadi seorang psikolog hebat seperti saat ini. Bayu kini sudah menjajaki usianya yang ke tiga puluh tujuh, tapi berbeda dengan sahabatnya yang lainnya… Bayu baru bisa memahami apa yang sebenarnya ia butuhkan di saat ia berusia tiga puluh lima tahun.
***
Tahun seribu Sembilan ratus tujuh puluh tujuh, ia lahir dari sebuah keluarga yang hangat, dan terkenal di tanah Jawa. Ia diberi nama Bayu, oleh ibunya yang hampir mendapat gelar bidan jika tidak dinikahi oleh suaminya, ayah Bayu.
Bayu adalah anak keempat, dari empat bersaudara. Well, ibu Bayu adalah wanita tercantik di keluarga kecil itu karena keempat anaknya laki-laki. Sayangnya, kehadiran Bayu yang mungil itu dianggap sebuah kesialan bagi kepercayaan ayahnya. Ayahnya percaya, bahwa hadirnya Bayu akan memperpendek usianya. Ah, bahkan usia hanya Allah yang menentukan.
Akhirnya, Bayu tinggal bersama neneknya. Nenek yang menyayanginya bagaikan anak kandungnya sendiri. Ayahnya? Ayah Bayu menceraikan ibunya, tak lama berselang setelah Bayu dipindahkan ke rumah neneknya.
Bayu tumbuh besar bersama neneknya. Bayu menjadi anak yang berbeda dengan anak lainnya. Bayu mengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Tidak seperti anak-anak lainnya, ia menjadi hiperaktif dalam kesehariannya, kerapkali gelisah, dan tidak bisa diam saat keadaan tenang. Namun demikian, neneknya amat menyayanginya. Mereka begitu sabar mengajari Bayu, sampai akhirnya Bayu bersemangat untuk sekolah, untuk menjalani runitias seperti teman-temannya yang lain, untuk selalu berusaha mengobati sakitnya. Ia hanya tahu bahwa orang yang menyayanginya adalah nenek dan kakeknya. Bayu tidak mengetahui bagaimana keadaan orangtua kandungnya sekarang.
Sampai akhirnya Bayu bisa duduk di bangku kuliah, semua berkat kakek neneknya. Belum sempat neneknya melihat cucunya itu memakai toga saat wisuda, ia sudah dipanggil Allah. Allah lebih menyayangi neneknya.
***
Percaya atau enggak, Bayu ini sudah sukses loh sekarang. Bahkan mengalahkan mereka yang seharusnya bisa jauh lebih survive sama kehidupan, dibanding Kak Bayu.
Yang mau Saya share disini sih, ya segimana pahitnya hidup… akan ada manisnya. Allah sudah menjanjikan, ada kemudahan sesudah kesulitan. Akan ada hasil bagi mereka yang berusaha. Akan ada jalan bagi siapa-siapa saja yang berusaha.
Ramadhan kali ini, Saya banyak melihat keadaan yang membuat Saya menjadi lebih bersyukur. Termasuk sahabat Saya ini, he just automatically be my inspirator. Thanks, Kak.
Anyway, selamat lebaran. Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga semangat ibadahnya nggak mengendur ya.
***

jodoh, ada disana.

Saya, entah mengapa di usia yang sudah duapuluhdua ini merasa masih belum dewasa. Kemarin-nya Saya, belum menjadi lebih baik dari hari ini. Ah, duapuluhdua menjadi kelabu ketika yang ada dalam pembicaraan bersama sahabat bukan lagi melulu mengenai anatomi atau fisiologi tubuh manusia, bukan lagi soal betapa menyebalkankannya dosen A saat memberikan tugas sebegitu banyaknya, bukan lagi baju apa yang lagi nge-trend sekarang. Well kalau yang terakhir terkadang masih.

Ketika Saya merasa ragu dengan yang namanya jodoh dan pernikahan things, yang bisa Saya lakukan hanya tersenyum memikirkan betapa tahun 2013-2014 awal terasa begitu fluktuatif. Saat dimana Saya merasa duapuluhdua sudah amat cukup untuk berbagi pemikiran yang serius bersama seseorang mengenai ‘masa depan’, ketika itu pula Saya dan seseorang diluar sana berkenalan.

Dimana Saya merasa bertemu seseorang yang cukup baik. Dan sudah, Saya enggan membahas hal itu karena Saya menjadikannya pelajaran dalam hidup Saya.

Berbicara mengenai masa depan dengan orang itu sangat menyenangkan, dimana bukan hanya Saya yang bercerita melainkan diapun berpendapat. Saat pada akhirnya Saya dengan senyum kekanakkan berceita ke ibu Saya mengenai dia. Ketika Saya mencoba memudahkan keraguan yang sejujurnya ada. Setiap malam Saya bertanya, dia ini siapa sih? Cukup baikkah untuk Saya? Atau Saya, apakah cukup baik untuk dia?

Sampai akhirnya suatu malam Saya bercerita dengan tersenyum tipis ke ibu Saya lagi, “Mah, kakak yang aku ceritain itu mau nikah loh.” Sekitar Bulan Desember-Januari lalu. Serius, Saya lupa kapan akhirnya teman Saya itu menikah.

Pada awalnya rasanya ingin menangis sepuasnya, rasanya ingin memiliki tombol ‘delete’ dalam orak Saya. Ketika yang Saya rasa saat itu, kebahagiaan rasanya semakin menjauh dan menjauh.

***

Pertama kalinya? Sebenarnya tidak, di tahun ketiga perkuliahan Saya-pun Saya pernah mengalami hal semacam ini sampai Saya bertanya, “Ada apa dengan Saya, Ya Rabb?”

***

Saya banyak sekali belajar dari semua ini. Betapa kehidupan pernikahan menjadi sebuah misteri yang kita belum ketahui. Bahkan Saya tidak tahu, apakah Saya akan bisa menikmati dunia pernikahan? Apakah Saya meninggal sebelum Saya menikah? Ah, bahkan apa yang akan terjadi esokpun, siapa yang tahu?

“Allah merindukan rintihan Saya,”

Saya berpikir begitu keras sampai bisa menyimpulkan hal itu, Allah terkadang memberikan ujian kepada umat-Nya semata-mata hanya karena rindu dengan rintihan umat. Mungkin Saya kurang berserah. Mungkin Allah masih ingin Saya hanya berdoa sendiri, belum berdoa bersama dengan imam Saya kelak. Mungkin Allah ingin Saya mendapatkan dia yang lebih baik. Mungkin dan mungkin yang banyaaak sekali kemungkinannya.

Lebih baik sakit saat ini, dibanding nantinya bukan?

Allah itu satu, sementara pintu keluar dari masalah itu banyak. Kak Anggun, seorang senior Saya memberikan kalimat itu kepada Saya hari ini.

Pintunya banyak, Allah ingin mendewasakan Saya.

***

Saya berada di titik dimana yang Saya bisa saat ini hanya berserah, namun tetap berusaha. Yah, mencoba memperbaiki diri karena… Surga? Surga masih terasa jauh. Saya berada di titik dimana yang Saya ingin lakukan saat ini hanya meyakini yang Saya yakin benar, yang tidak ada keraguan. Yang ayah dan ibu Saya ridhoi.

How can it be when me here busy thinking of you but you there busy thinking someone else? Yang Saya butuh bukan itu, yang Saya butuh dia yang sama-sama sedang menjalani proses untuk menjadi lebih baik. Yang bisa dilakukan hanya berdoa, berdoa, berdoa, dan menangis dalam doa. Karena sedekat doa-lah satu-satunya jarak terdekat Saya dengan dia. Sedekat doa, sedekat kemudahan yang Allah berikan, sedekat ridho orangtua dimana ada ridho Allah disitu.

***

Ketika Allah swt sangat sayang dan rindu pada hamba-NYA, ia akan mengirimkan sebuah “hadiah istimewa” melalui malaikat Jibril yang isinya adalah “ujian & cobaan.”

 

Dalam hadits qudsi Allah berfirman: “Pergilah pada hambaKU lalu timpakanlah berbagai ujian padanya kerana AKU ingin mendengar rintihannya.” (HR Thabrani dari Abu Umamah)

 

HALLO YANG DISANA, ADA ALLAH LOH

JADI NGGAK USAH RAGU, NGGAK USAH SEDIH

SABAR, SABAR, SABAR

KALAU ADA BATASNYA, BUKAN SABAR

-saya, yang masih bertanya sabarnya saya semana-

Tagged , , , , , , , , ,

PROYEK MENULIS – BERMULA DI TEMPAT BERAKHIR

           Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!   

            Sore itu semua terasa berbeda, ketika langit terlihat lebih oranye dari biasanya. Entah apakah memang berbeda, atau aku yang selama ini tidak menengadahkan kepalaku ke langit yang selalu indah di sore hari. Sore ini-pun menjadi berbeda, ketika aku tahu kalau kamu sudah berpindah ke kota yang lebih kecil di ujung Sorong sana. Ketika entah mengapa, wajahmu semakin berpendar seolah ingin menghilang. Meski pada kenyataannya, aku belum pernah melihatmu secara langsung. Sekalipun. Ya, sekalipun semenjak aku dan kamu berkenalan tujuh bulan yang lalu.

***

            Trini panggilan yang orangtuaku berikan semenjak aku dapat merespon siapapun yang memanggilku, semenjak indera pendengaranku mampu menginterpretasikan bahwa aku harus menoleh setiap ada yang memanggilku Trini. Usiaku kini 28 tahun, ah bahkan aku sudah tidak ingin merayakan ulang tahun. Karena pertama sudah sangat sulit menemukan teman untuk merayakannya karena kebanyakan sudah sibuk dengan keluarga kecil mereka. Kedua, karena 28 tahun dan belum menikah membuatku ingin menemukan mesin waktu dan sekedar ingin mengubah tahun kelahiranku yang tertera di akte kelahiranku.

            Ayah dan ibuku tinggal di Solo, tempat kelahiran mereka. Sebelumnya kami hidup dengan nyaman di pinggiran Kota Jakarta namun mereka memutuskan untuk pindah dengan alasan usia mereka yang terbilang tua untuk tetap bekerja dan berkomunikasi dengan polusi setiap harinya. Itu alasan mereka yang diungkapkan kepadaku di hari saat mereka pindah. Padahal akupun tahu, mereka diam-diam sedang dengan paniknya mencari imam yang pantas untukku. Yang pantas untuk satu-satunya anak mereka yang terlalu fokus dengan akademis.

            Dan pencarian mereka sudah menurun kecepatannya, saat aku menceritakan tentang Prama. Seorang pria yang aku kenal lewat sahabatku, Utami.

            Menjadi seorang dokter umum di sebuah RSUD membuatku harus pulang larut hampir setiap harinya. Beruntung, aku bisa pulang pukul 14.00 dan melanjutkan dinas di klinik seperti hari ini. Dan dengan senangnya pukul 18.00 mobilku yang kubeli dengan usaha jaga klinik sana-sini itu sudah berhasil keluar dari parkiran klinik.

            Begitupun Prama, ya Prama-pun memiliki profesi yang sama denganku. Prama ditugaskan ke Sorong, Papua. Tempat yang baru kudengar saja ceritanya lewat Prama. Tempat yang terdengar begitu dekat, lewat ceritanya. Prama sangat suka menjadi relawan sebuah komunitas, menjelajah daerah dan bercerita dalam blognya. Dan ini adalah bagian dari perjalanan panjangnya, mengabdi di Papua Barat sana. Sebagai duta sebuah komunitas kesehatan, ia harus tinggal disana selama enam bulan. Setelah itu, ia akan bersekolah lagi ujarnya. Ini adalah perjalanan ‘nakal’ terakhirnya, ia akan meneruskan sekolah untuk menjadi dokter anak, seperti kakeknya dulu.

            Tidak seperti pasangan lainnya, aku dan Prama belum pernah bertemu. Tujuh bulan kami habiskan berkomunikasi lewat sms, telepon, atau jejaring sosial lainnya yang bisa digunakan saat sinyal di Sorong menghambat komunikasi kami. Tapi entah mengapa, aku percaya bahwa akan ada ujung yang indah di perkenalan kami ini.

***

            “Gimana pasiennya hari ini? Bu dokter yang satu ini suaranya capek banget.” Tanyanya, malam itu saat aku sedang meluruskan kaki yang terasa sangat pegal.

            Dan seperti hari-hari sebelumnya, Prama akan sabar mendengar ceritaku sesekali ia mengomentari dan tertawa, sesekali ia marah saat aku bercerita ada orang yang kurang baik terhadapku, sesekali ia menimpali, dan akupun akan menunggu ceritanya. Cerita mengenai Sorong, Papua. Tentang anak-anak berkulit gelap berlari di Pantai Tanjung Kasuari yang berpasir putih itu, tentang mitos yang ada di sana, dan tentang semuanya.

            “Trin, tadi mamaku ngirim sms.”

            Dan entah mengapa jantungku berdegup sedikit lebih kencang, baru kali ini ia menyinggung tentang keluarganya. Biasanya, selalu aku yang bercerita tentang keluargaku yang penasaran dengan sosoknya.

            “Mama kamu sms apa, Pram?”

            “Mama lagi ke Jakarta, mama mau kenalan sama kamu katanya.”

***

            Hari Minggu ini terasa berbeda, hari ini kamarku berantakan. Tergantung disana tiga baju yang aku siapkan untuk hari ini, beserta sepatu yang cocok untuk baju itu. Hari ini, aku akan bertemu dengan ibu dari seseorang yang sudah dekat sekali denganku. Apa yang nanti akan aku bicarakan dengannya? Bagaimana membuka obrolan dengan ibunya Prama? Bagaimana kalau dia menganggapku aneh dengan bajuku?

            “Sudah sayang, jadi diri kamu saja. Bapak saja kalau kamu senyum doang sudah klepek-klepek kok. Ndak usah jadi orang lain, kamu itu cantik ndok.” Ujar bapak semalam, saat aku bercerita mengenai pertemuan hari ini. Dapat aku rasakan bapak dan ibu yang bahagia di ujung telepon sana, bahagia bahwa anak satu-satunya ini menemui titik terang dari penantiannya selama ini.

             Prama juga tertawa di ujung telepon sana, saat aku bercerita betapa bingungnya aku memakai baju apa.

            “Trin, ibu itu orangnya nggak sebegitunya. Ada perempuan cantik kayak kamu yang dekat sama aku saja, ibu sudah senang. Ibu nggak punya anak perempuan, Trin. Menantunya-pun jarang ke rumah. Ibuku justru yang excited banget mau bertemu kamu.”

***

            Ibu Prama mengajakku makan pagi, di sebuah restoran Jawa yang terkenal dengan ayam sambal hijaunya. Aku memutuskan untuk memakai rok bercorak bunga-bunga dan kemeja berwarna putih, warna favoritku. Tampak sederhana memang, tapi inilah aku.

            Aku berjalan pelan menuju meja nomor 7 yang letaknya agak menyudut. Melihat apakah ibu Prama sudah datang, atau aku yang harus menunggu beliau. Beliau ada disana, sedang duduk dengan majalah ibu-ibu yang ada di tangannya, memandangi gambar menarik yang ada di hadapannya. Ah usianya sudah 60 tahun aku rasa, namun ia tetap cantik. Hidung mancungnya sama seperti hidung Prama yang selama ini aku lihat di foto, dan di webcam. Ternyata ibu Prama tidak sendiri, seorang lelaki yang juga sudah berumur duduk di sampingnya. Sedang berbicara melalui ponselnya.

            “Iya, bapak nggak nanya yang aneh-aneh,” Ujar bapak itu sambil tersenyum, “Iya, Prama bapak sama ibu sudah sampai.”

            Deg.

            Berarti benar mereka adalah ibu dan ayah Prama.

            Aku berhenti di dekat meja mereka, membuat ayahnya melihat ke arahku dan beliau bertanya “Dek Trini? Pacarnya Prama?” Yang aku balas dengan anggukan.

            “Ini sudah ini, Trini sudah datang.”

            Ibu Trini berdiri, mendekatiku. Kemudian aku mencium tangan yang wangi itu, yang menatapku penuh sayang. Seperti rasanya ini bukan kali pertama kami bertemu.

            “Yasudah kamu ganggu deh, Pram. Bapak kan mau ngobrol sama Trini.” Kemudian beliau menutup telepon itu, yang aku tahu orang yang diajak ngobrol penasaran dengan pertemuan kami pagi ini.

            Aku mencium tangan beliau, disusulnya dengan senyuman juga. Kami kemudian duduk di sana, jantungku semakin tidak karuan pagi itu.

            “Kamu cantik, mukamu ayu seperti wanita Jawa.” Ujar Ibu Prama terlebih dahulu.

            “Ibu juga pasti lebih cantik sewaktu seumuran Saya.”

            Kemudian semua yang aku takutkan hilang, semua rasa tidak karuan yang aku rasakan sejak malam dimana Prama mengatakan ibunya ingin bertemu dengankupun hilang. Semua berjalan terlalu sempurna, mengobrol tentang daerah asal orangtuaku, tentang bagaimana awalnya Prama mengenalku, tentang bagaimana keadaanku yang tinggal sendirian di Jakarta.

***

            Dan akhir-akhir ini segalanya selalu terasa sempurna, dengan rasa takut yang menghampiriku setiap harinya. Aku takut dengan segala hal yang terlalu membahagiakan, karena siapa yang tahu ujungnya akan bagaimana? Dan seolah semua kenangan dua tahun lalu, saat aku belum mengenal Prama terlihat lagi. Saat semuanya diawali dengan hal-hal yang terlalu membahagiakan, seperti saat ini.

            Saat itu usiaku masih 25 tahun. Saat dimana aku masih rajin bekerja di klinik sana-sini karena masih baru sekali menjadi dokter. Saat segala impian rasanya ingin aku wujudkan satu-persatu, termasuk keinginanku sewaktu kuliah dulu. Aku ingin menikah di usiaku yang ke-25.

            Saat itu semuanya terasa mermbahagiakan, saat ia yang bernama Bagas mengajakku mengelilingi Bali bagian Selatan siang itu. Kami sedang berlibur ke Bali, bersama beberapa dokter Internship sepertiku yang baru saja menyelesaikan masa kerja di Rumah Sakit, dan beberapa perawat UGD yang mengambil cuti hari raya mereka.

            Bagas menyewa sebuah motor matic untuk kami gunakan siang itu, “Ayo Trin, sesekali kita duet travelling, masa aku harus muterin Bali sendirian? Happiness seems right when we shared, right?

            Aku mengangguk mengiyakan ajakannya, memakai celana jeans dan kaos polos berwarna putih dan tak lupa menenteng kamera yang selalu aku bawa kemana-mana. Kami mengelilingi Bali Selatan siang itu, aku dan dia. Rasanya ingin berteriak saking senangnya.

            “Kok bisa?” Tanyaku sambil menunjuk sepeda motor itu.

            “Oh, tadi aku ke penyewaan motor. Lumayan murah dan cepat kan. Daripada mobil diisi berdua dan macet kan pemborosan.” Jawabnya enteng.

            “Tapi kalau mobil kan, nggak duet travelling gini.”

            “Aku lagi pengen jalan sama kamu.”

            Dan Bali menyambut kami dengan panas yang semakin lama semakin berkurang, menuju ke senja yang kekuningan menerangi Kuta.

            “Bagas, kita nikmatin sunset dulu gimana?”

            “Tadinya aku mau ngajak kamu ke Sanur lewatin Sukowati, terus Gianyar deh.”

            “Kita foto-foto disini aja gimana? Lanjut Bebek Bengil?” Tanyaku merayu, aku memang ingin memotret Kuta, karena sejak kemarin kami terlalu lelah berburu oleh-oleh tanpa sempat melihat sunset.

            “Call!” Ujar Bagas, yang setahuku sangat menyukai segala bentuk bebek matang.

***

            Kami menikmati Bebek Bengil di Nusa Dua malam itu, Bagas memesan duck spring roll sementara aku memesan cumi goreng bumbu Bali. Suasananya begitu ramai, banyak sekali pengunjung yang datang. Kebanyakan datang bersama keluarga mereka, beberapa datang sendiri. Mungkin ingin menikmati malam yang terlalu sayang untuk dilewatkan dengan tidur di balik selimut hotel yang super nyaman.

            “Besok kita ke Jakarta banget nih, Trin?”

            “Iya haha, pasti mulai sibuk ngurus cari kerja lagi. Adaptasi lagi, kenalan lagi sama orang-orang Rumah Sakit, mungkin bahasa baru lagi kalau kita apply keluar daerah.” Jawabku sambil tersenyum.

            “Aku harus balik ke rumah ayahku, Trin.”

            Aku menghentikan makanku sejenak, menarik napas panjang. Mulai merasakan sesuatu yang janggal dalam percakapan mala mini. “Padang?”

            “Iya, dan harus stay disana. Rumah Sakit yang ayahku bangun lagi butuh aku. Rumah Sakit swasta di daerah itu, nggak semulus di Jakarta. Aku harus dinas disana, sekaligus bantu ayah. Kakakku juga sudah dinas disana.”

***

            Dan malam itu, menjadi malam terakhir kami berkomunikasi. Komunikasi dua arah lebih tepatnya. Saat Bagas sudah sampai di Padang, beberapa kali di sela waktu senggangku, aku masih mengiriminya pesan. Menanyakan kabarnya, atau keadaan Rumah Sakit milik keluarganya. Atau sekedar memanggil namanya saja. Tapi semuanya sia-sia, tidak ada balasan yang datang.

            Enam bulan yang aku perlukan untuk mencari tahu keberadaannya, mencari tahu kebenaran akan semua yang dia gantungkan. Hidupku menjadi kacau sekali saat itu. Hanya bekerja Senin – Rabu, selebihnya aku habiskan membaca buku dan mengunjungi sahabatku Utami di akhir pecan. Menangis di kamarnya, menceritakan betapa rindunya aku dengan Bagas yang dulu selalu ada.

            Sampai akhirnya Utami mendapat kabar dari pacarnya yang sempat berkunjung ke Padang untuk menghadiri seminar kalau Bagas sudah menikah.

            “Karena aku dijodohin, dan aku suka sama kamu waktu itu jadi aku lebih baik pergi daripada membebani kamu.” Ujar Bagas malam itu, saat aku meneleponnya menggunakan nomor Utami dan berbagai permintaan maaf lainnya yang terdengar parau di telingaku.

            Sampai akhirnya aku bekerja siang-malam demi menghilangkan ingatanku tentang Bagas, sampai aku asyik dengan pekerjaanku. Dan aku tidak menyadari sudah tiga tahun semenjak kejadian itu ada. Kemudian Prama datang.

***

            Ibu memberikanku tiket liburan ke Bali untuk 3 hari kedepan. Agar aku tidak suntuk dengan pekerjaan, ujarnya. Ibu dan ayahku tidak pernah tahu ada kenangan apa yang ingin aku lupakan di Pulau ini. Tapi justru kesinilah aku akan datang, dan melupakan semuanya.

            Bali sudah banyak berubah, panasnya semakin terik aku rasa. Dan wisatawan asing semakin banyak yang datang. Jalanannya-pun lebih ramai, kerajinan tangan yang dijual di pinggiran Kuta-pun makin bervariasi.

            Solo travelling menjadi pengalaman baru bagiku, bisa menikmati Jimbaran sepuas yang aku mau, bahkan aku bisa memotret pemandangan Tanah Lot dengan puas, dan kembali ke hotel di dekat Kuta sore harinya.

            Aku duduk di salah satu kursi di Bebek Bengil Nusa Dua malam itu, menikmati Black Russian Pie yang aku pesan setelah menghabiskan sepiring Grilled Thai Chicken Wings.Mungkin orang di meja sebelah akan memandangku takjub kalau pelayan tidak mengangkat piring bekas appetizer yang kuhabiskan dengan cepat.

            Aku menoleh ke meja sebelah itu, seseorang yang membaca koran di malam hari. Bukankah terlalu terlambat membaca berita di malam hari? Pikirku.

            “Mas, Saya pesan yang dimakan sama mbak yang disebelah.” Ujarnya sopan pada pelayan yang tadi membersihkan mejaku.

            Aku menoleh malas memandangnya, penasaran dengan wajah pria aneh yang ada di meja itu.

            Wajah itu perlahan terlihat saat koran yang sedari tadi ia pegang, ia lipat dengan rapih. Prama. Wajah itu mitip sekali dengan Prama versi foto dan video call yang selama ini kami gunakan untuk berkomunikasi.

            “Hai, Trini. Saw me already?”

            Dan benar ternyata Prama yang duduk disana, yang sedetik kemudian duduk di hadapanku sambil tersenyum. Menepuk bahuku yang kaku karena masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

            “Kamu?” Tanyaku tak percaya.

            “Iya aku disini, duduk di tempat makan yang kamu ingin lupakan. Di Bali yang selalu kamu jauhin dari list liburan kamu tiga tahun belakangan.”

            “Prama?” Tanyaku lagi, masih belum paham dengan apa yang terjadi.

            “Aku mau memulai dengan kamu di tempat kamu mengakhiri sesuatu, aku nggak mau kamu mengubur kebahagian kamu di tempat yang terlalu sayang untuk jadi tempat sampah kesedihan kamu. Trini, aku sudah disini dan please, only thinking about your happiness. Throw away those sadness.”

            “Aku masih nggak percaya akhirnya kita ketemu, Pram.”

            “Akupun sama, tunggu aku beberapa bulan lagi ya sayang. Sampai masa bhaktiku di Sorong habis, kita bisa stay disini atau kita tinggal di Jakarta.” Ujarnya dengan santai. “Ibu dan bapakku sedang menemui orangtua kamu di Solo, sekarang. Mereka meminta izin untuk melamar satu-satunya anak mereka yang sekarang duduk di hadapanku.” Prama meraih tanganku yang masih memegang garpu diatas piringku, “Marry me, please?”

***

            Dan aku tidak ragu lagi dengan berbagai momen yang terlalu membahagiakan belakangan ini. Akupun tidak takut dengan masalah yang ada, toh setiap masalah justru menguatkan kita bukan? Terimakasih untuk kebahagiaan yang penuh penantian panjang ini, Tuhan. Menunggu sampai usiaku setua ini, menunggu demi kebahagiaan ini, aku sama sekali tidak lelah Tuhan.

*SELESAI*

 

 

 

 

Tagged , , , , , , ,