hello, been too long!

 

i'm back

sejak tulisanku yang berjudul “buat kamu yang mau masuk fakultas kedokteran” ku publish di blog ini, banyak sekali teman-teman yang menghubungi ke berbagai sosmed. Bisa di follow ya atau personal mailpun boleh🙂

Adventure

INSYAALLAH AKTIF DI KEDUANYA

MOHON DUKUNGANNYA🙂

I WILL SHARE YOU MORE, INSYAALLAH

alhamdulillah sudah dokter

alhamdulillah resmi menjadi

dr. Nandika Nurfitria

terlalu banyak yang Saya harus syukuri di tahun ini

terlalu banyak pengalaman yang telah dialami

terlalu banyak rasa senang yang tersimpan

dan terlalu banyak persahabatan yang terjalin

terimakasih Ya Allah untuk nikmat-Mu

terimakasih ayah dan ibu

terimakasih kedua adik Saya

terimakasih keluarga Saya

terimakasih sahabat dimanapun kalian berada

semoga bertemu dalam keadaan yang lebih baik

yang pasti Allah ridhoi

terimakasi

you.

            Beberapa orang mencari tahu kapan ia menemukan apa yang mereka sebut sebagai kasih sayang, beberapa orang membutakan hati sementara apa yang disebut kasih sayang… setia dimanapun dia berpijak. Saya?

            Well, Saya menganggap kamu sebagai salah satu yang Allah berikan sebagai bentuk lain dari kasih sayang. Selain dari kasih sayang-Nya yang begitu besar untuk Saya, selain dari kasih sayang yang mama papa berikan kepada Saya—yang sangat kamu pahami—dan kasih sayang dari banyak orang, termasuk teman-teman terdekat Saya. Kamu? Ya, kamu bagian dari itu.

            ***

            Sayang?

            Dimana saat kebahagiaan itu datang, hati Saya tersenyum.

            Layaknya pelangi yang tersimpan di balik awan, kala hujan turun.

            Ya, warna.

            Kamu memberi Saya warna, sahabat.

            ***

            Beberapa orang tidak bisa mengekspresikan betapa bahagianya mereka, atau betapa senangnya saat memiliki sahabat yang dekat. Beberapa dengan mudah mengatakan kangen, I love you, atau I miss you.

            Terimakasih karena sudah sangat memahami keadaan Saya, terimakasih begitu paham akan rasa sayang yang orangtua Saya tanamkan kepada anaknya ini, terimakasih paham bahwa Allah sangat sayang pada Saya yang membuat Saya ingin tetap seperti ini, terimakasih membuat Saya si pembenci susu—sudah nggak tahu lagi kapan terakhir minum susu putih—ini akhirnya bisa minum susu lagi.

            Dan, maaf hanya ini yang bisa Saya berikan dan tunjukkan.

            Tetap jadi yang selalu sibuk disana, hingga kesibukanmu menjadikan kamu asyik dengan dunia itu, tetap menjadi kamu yang kreatif hingga yang kamu pikirkan hanya itu, tetap menjadi yang menjaga keluarga. Well, do remember me someday—selfish me.

            ***

Always waiting for something more to come

Always waiting for the Summer sun

To come lighten my days up

Before it is gone

 

Always one step ahead in my mind

And as the time goes by

Everyday seems to cover the meaning

Of the things that I like

 

Then you showed me the moon is new

That there is always time for changing

And to start believing

And I do believe you

 

You know it would be a lie

But I’d like to say at least I

Tried my best, I’m not a coward

I am nothing like that

 

Then show me the moon is new

If that means a lot to you

Well, you know that I’d surely believe you

I will always do

 

Always waiting for something more to come

Always waiting for the Summer sun

To come and you will know it

The reason for all this will show it’s

Meaning and we will believe it

Like I believe in you

***

TERIMAKASIH SAHABAT🙂

*nggaktaudibacatauenggak*

Tagged ,

LOVE.

LOVE

this is a reminder, that remembering you needs no reminder.

Tagged , ,

Teman Saya, Bayu

Cerita ini, cerita dari seorang sahabat Saya. Sahabat yang hanya Saya kenal lewat dunia maya. Sahabat yang berani menceritakan kisahnya, meski kami belum pernah bertemu. Sahabat yang wajahnya saja baru Saya lihat melalui foto. Sebut saja namanya Bayu, Kak Bayu.
Bayu, memiliki seorang ibu hebat yang mampu membesarkannya sampai menjadi seorang psikolog hebat seperti saat ini. Bayu kini sudah menjajaki usianya yang ke tiga puluh tujuh, tapi berbeda dengan sahabatnya yang lainnya… Bayu baru bisa memahami apa yang sebenarnya ia butuhkan di saat ia berusia tiga puluh lima tahun.
***
Tahun seribu Sembilan ratus tujuh puluh tujuh, ia lahir dari sebuah keluarga yang hangat, dan terkenal di tanah Jawa. Ia diberi nama Bayu, oleh ibunya yang hampir mendapat gelar bidan jika tidak dinikahi oleh suaminya, ayah Bayu.
Bayu adalah anak keempat, dari empat bersaudara. Well, ibu Bayu adalah wanita tercantik di keluarga kecil itu karena keempat anaknya laki-laki. Sayangnya, kehadiran Bayu yang mungil itu dianggap sebuah kesialan bagi kepercayaan ayahnya. Ayahnya percaya, bahwa hadirnya Bayu akan memperpendek usianya. Ah, bahkan usia hanya Allah yang menentukan.
Akhirnya, Bayu tinggal bersama neneknya. Nenek yang menyayanginya bagaikan anak kandungnya sendiri. Ayahnya? Ayah Bayu menceraikan ibunya, tak lama berselang setelah Bayu dipindahkan ke rumah neneknya.
Bayu tumbuh besar bersama neneknya. Bayu menjadi anak yang berbeda dengan anak lainnya. Bayu mengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Tidak seperti anak-anak lainnya, ia menjadi hiperaktif dalam kesehariannya, kerapkali gelisah, dan tidak bisa diam saat keadaan tenang. Namun demikian, neneknya amat menyayanginya. Mereka begitu sabar mengajari Bayu, sampai akhirnya Bayu bersemangat untuk sekolah, untuk menjalani runitias seperti teman-temannya yang lain, untuk selalu berusaha mengobati sakitnya. Ia hanya tahu bahwa orang yang menyayanginya adalah nenek dan kakeknya. Bayu tidak mengetahui bagaimana keadaan orangtua kandungnya sekarang.
Sampai akhirnya Bayu bisa duduk di bangku kuliah, semua berkat kakek neneknya. Belum sempat neneknya melihat cucunya itu memakai toga saat wisuda, ia sudah dipanggil Allah. Allah lebih menyayangi neneknya.
***
Percaya atau enggak, Bayu ini sudah sukses loh sekarang. Bahkan mengalahkan mereka yang seharusnya bisa jauh lebih survive sama kehidupan, dibanding Kak Bayu.
Yang mau Saya share disini sih, ya segimana pahitnya hidup… akan ada manisnya. Allah sudah menjanjikan, ada kemudahan sesudah kesulitan. Akan ada hasil bagi mereka yang berusaha. Akan ada jalan bagi siapa-siapa saja yang berusaha.
Ramadhan kali ini, Saya banyak melihat keadaan yang membuat Saya menjadi lebih bersyukur. Termasuk sahabat Saya ini, he just automatically be my inspirator. Thanks, Kak.
Anyway, selamat lebaran. Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga semangat ibadahnya nggak mengendur ya.
***

jodoh, ada disana.

Saya, entah mengapa di usia yang sudah duapuluhdua ini merasa masih belum dewasa. Kemarin-nya Saya, belum menjadi lebih baik dari hari ini. Ah, duapuluhdua menjadi kelabu ketika yang ada dalam pembicaraan bersama sahabat bukan lagi melulu mengenai anatomi atau fisiologi tubuh manusia, bukan lagi soal betapa menyebalkankannya dosen A saat memberikan tugas sebegitu banyaknya, bukan lagi baju apa yang lagi nge-trend sekarang. Well kalau yang terakhir terkadang masih.

Ketika Saya merasa ragu dengan yang namanya jodoh dan pernikahan things, yang bisa Saya lakukan hanya tersenyum memikirkan betapa tahun 2013-2014 awal terasa begitu fluktuatif. Saat dimana Saya merasa duapuluhdua sudah amat cukup untuk berbagi pemikiran yang serius bersama seseorang mengenai ‘masa depan’, ketika itu pula Saya dan seseorang diluar sana berkenalan.

Dimana Saya merasa bertemu seseorang yang cukup baik. Dan sudah, Saya enggan membahas hal itu karena Saya menjadikannya pelajaran dalam hidup Saya.

Berbicara mengenai masa depan dengan orang itu sangat menyenangkan, dimana bukan hanya Saya yang bercerita melainkan diapun berpendapat. Saat pada akhirnya Saya dengan senyum kekanakkan berceita ke ibu Saya mengenai dia. Ketika Saya mencoba memudahkan keraguan yang sejujurnya ada. Setiap malam Saya bertanya, dia ini siapa sih? Cukup baikkah untuk Saya? Atau Saya, apakah cukup baik untuk dia?

Sampai akhirnya suatu malam Saya bercerita dengan tersenyum tipis ke ibu Saya lagi, “Mah, kakak yang aku ceritain itu mau nikah loh.” Sekitar Bulan Desember-Januari lalu. Serius, Saya lupa kapan akhirnya teman Saya itu menikah.

Pada awalnya rasanya ingin menangis sepuasnya, rasanya ingin memiliki tombol ‘delete’ dalam orak Saya. Ketika yang Saya rasa saat itu, kebahagiaan rasanya semakin menjauh dan menjauh.

***

Pertama kalinya? Sebenarnya tidak, di tahun ketiga perkuliahan Saya-pun Saya pernah mengalami hal semacam ini sampai Saya bertanya, “Ada apa dengan Saya, Ya Rabb?”

***

Saya banyak sekali belajar dari semua ini. Betapa kehidupan pernikahan menjadi sebuah misteri yang kita belum ketahui. Bahkan Saya tidak tahu, apakah Saya akan bisa menikmati dunia pernikahan? Apakah Saya meninggal sebelum Saya menikah? Ah, bahkan apa yang akan terjadi esokpun, siapa yang tahu?

“Allah merindukan rintihan Saya,”

Saya berpikir begitu keras sampai bisa menyimpulkan hal itu, Allah terkadang memberikan ujian kepada umat-Nya semata-mata hanya karena rindu dengan rintihan umat. Mungkin Saya kurang berserah. Mungkin Allah masih ingin Saya hanya berdoa sendiri, belum berdoa bersama dengan imam Saya kelak. Mungkin Allah ingin Saya mendapatkan dia yang lebih baik. Mungkin dan mungkin yang banyaaak sekali kemungkinannya.

Lebih baik sakit saat ini, dibanding nantinya bukan?

Allah itu satu, sementara pintu keluar dari masalah itu banyak. Kak Anggun, seorang senior Saya memberikan kalimat itu kepada Saya hari ini.

Pintunya banyak, Allah ingin mendewasakan Saya.

***

Saya berada di titik dimana yang Saya bisa saat ini hanya berserah, namun tetap berusaha. Yah, mencoba memperbaiki diri karena… Surga? Surga masih terasa jauh. Saya berada di titik dimana yang Saya ingin lakukan saat ini hanya meyakini yang Saya yakin benar, yang tidak ada keraguan. Yang ayah dan ibu Saya ridhoi.

How can it be when me here busy thinking of you but you there busy thinking someone else? Yang Saya butuh bukan itu, yang Saya butuh dia yang sama-sama sedang menjalani proses untuk menjadi lebih baik. Yang bisa dilakukan hanya berdoa, berdoa, berdoa, dan menangis dalam doa. Karena sedekat doa-lah satu-satunya jarak terdekat Saya dengan dia. Sedekat doa, sedekat kemudahan yang Allah berikan, sedekat ridho orangtua dimana ada ridho Allah disitu.

***

Ketika Allah swt sangat sayang dan rindu pada hamba-NYA, ia akan mengirimkan sebuah “hadiah istimewa” melalui malaikat Jibril yang isinya adalah “ujian & cobaan.”

 

Dalam hadits qudsi Allah berfirman: “Pergilah pada hambaKU lalu timpakanlah berbagai ujian padanya kerana AKU ingin mendengar rintihannya.” (HR Thabrani dari Abu Umamah)

 

HALLO YANG DISANA, ADA ALLAH LOH

JADI NGGAK USAH RAGU, NGGAK USAH SEDIH

SABAR, SABAR, SABAR

KALAU ADA BATASNYA, BUKAN SABAR

-saya, yang masih bertanya sabarnya saya semana-

Tagged , , , , , , , , ,

PROYEK MENULIS – BERMULA DI TEMPAT BERAKHIR

           Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!   

            Sore itu semua terasa berbeda, ketika langit terlihat lebih oranye dari biasanya. Entah apakah memang berbeda, atau aku yang selama ini tidak menengadahkan kepalaku ke langit yang selalu indah di sore hari. Sore ini-pun menjadi berbeda, ketika aku tahu kalau kamu sudah berpindah ke kota yang lebih kecil di ujung Sorong sana. Ketika entah mengapa, wajahmu semakin berpendar seolah ingin menghilang. Meski pada kenyataannya, aku belum pernah melihatmu secara langsung. Sekalipun. Ya, sekalipun semenjak aku dan kamu berkenalan tujuh bulan yang lalu.

***

            Trini panggilan yang orangtuaku berikan semenjak aku dapat merespon siapapun yang memanggilku, semenjak indera pendengaranku mampu menginterpretasikan bahwa aku harus menoleh setiap ada yang memanggilku Trini. Usiaku kini 28 tahun, ah bahkan aku sudah tidak ingin merayakan ulang tahun. Karena pertama sudah sangat sulit menemukan teman untuk merayakannya karena kebanyakan sudah sibuk dengan keluarga kecil mereka. Kedua, karena 28 tahun dan belum menikah membuatku ingin menemukan mesin waktu dan sekedar ingin mengubah tahun kelahiranku yang tertera di akte kelahiranku.

            Ayah dan ibuku tinggal di Solo, tempat kelahiran mereka. Sebelumnya kami hidup dengan nyaman di pinggiran Kota Jakarta namun mereka memutuskan untuk pindah dengan alasan usia mereka yang terbilang tua untuk tetap bekerja dan berkomunikasi dengan polusi setiap harinya. Itu alasan mereka yang diungkapkan kepadaku di hari saat mereka pindah. Padahal akupun tahu, mereka diam-diam sedang dengan paniknya mencari imam yang pantas untukku. Yang pantas untuk satu-satunya anak mereka yang terlalu fokus dengan akademis.

            Dan pencarian mereka sudah menurun kecepatannya, saat aku menceritakan tentang Prama. Seorang pria yang aku kenal lewat sahabatku, Utami.

            Menjadi seorang dokter umum di sebuah RSUD membuatku harus pulang larut hampir setiap harinya. Beruntung, aku bisa pulang pukul 14.00 dan melanjutkan dinas di klinik seperti hari ini. Dan dengan senangnya pukul 18.00 mobilku yang kubeli dengan usaha jaga klinik sana-sini itu sudah berhasil keluar dari parkiran klinik.

            Begitupun Prama, ya Prama-pun memiliki profesi yang sama denganku. Prama ditugaskan ke Sorong, Papua. Tempat yang baru kudengar saja ceritanya lewat Prama. Tempat yang terdengar begitu dekat, lewat ceritanya. Prama sangat suka menjadi relawan sebuah komunitas, menjelajah daerah dan bercerita dalam blognya. Dan ini adalah bagian dari perjalanan panjangnya, mengabdi di Papua Barat sana. Sebagai duta sebuah komunitas kesehatan, ia harus tinggal disana selama enam bulan. Setelah itu, ia akan bersekolah lagi ujarnya. Ini adalah perjalanan ‘nakal’ terakhirnya, ia akan meneruskan sekolah untuk menjadi dokter anak, seperti kakeknya dulu.

            Tidak seperti pasangan lainnya, aku dan Prama belum pernah bertemu. Tujuh bulan kami habiskan berkomunikasi lewat sms, telepon, atau jejaring sosial lainnya yang bisa digunakan saat sinyal di Sorong menghambat komunikasi kami. Tapi entah mengapa, aku percaya bahwa akan ada ujung yang indah di perkenalan kami ini.

***

            “Gimana pasiennya hari ini? Bu dokter yang satu ini suaranya capek banget.” Tanyanya, malam itu saat aku sedang meluruskan kaki yang terasa sangat pegal.

            Dan seperti hari-hari sebelumnya, Prama akan sabar mendengar ceritaku sesekali ia mengomentari dan tertawa, sesekali ia marah saat aku bercerita ada orang yang kurang baik terhadapku, sesekali ia menimpali, dan akupun akan menunggu ceritanya. Cerita mengenai Sorong, Papua. Tentang anak-anak berkulit gelap berlari di Pantai Tanjung Kasuari yang berpasir putih itu, tentang mitos yang ada di sana, dan tentang semuanya.

            “Trin, tadi mamaku ngirim sms.”

            Dan entah mengapa jantungku berdegup sedikit lebih kencang, baru kali ini ia menyinggung tentang keluarganya. Biasanya, selalu aku yang bercerita tentang keluargaku yang penasaran dengan sosoknya.

            “Mama kamu sms apa, Pram?”

            “Mama lagi ke Jakarta, mama mau kenalan sama kamu katanya.”

***

            Hari Minggu ini terasa berbeda, hari ini kamarku berantakan. Tergantung disana tiga baju yang aku siapkan untuk hari ini, beserta sepatu yang cocok untuk baju itu. Hari ini, aku akan bertemu dengan ibu dari seseorang yang sudah dekat sekali denganku. Apa yang nanti akan aku bicarakan dengannya? Bagaimana membuka obrolan dengan ibunya Prama? Bagaimana kalau dia menganggapku aneh dengan bajuku?

            “Sudah sayang, jadi diri kamu saja. Bapak saja kalau kamu senyum doang sudah klepek-klepek kok. Ndak usah jadi orang lain, kamu itu cantik ndok.” Ujar bapak semalam, saat aku bercerita mengenai pertemuan hari ini. Dapat aku rasakan bapak dan ibu yang bahagia di ujung telepon sana, bahagia bahwa anak satu-satunya ini menemui titik terang dari penantiannya selama ini.

             Prama juga tertawa di ujung telepon sana, saat aku bercerita betapa bingungnya aku memakai baju apa.

            “Trin, ibu itu orangnya nggak sebegitunya. Ada perempuan cantik kayak kamu yang dekat sama aku saja, ibu sudah senang. Ibu nggak punya anak perempuan, Trin. Menantunya-pun jarang ke rumah. Ibuku justru yang excited banget mau bertemu kamu.”

***

            Ibu Prama mengajakku makan pagi, di sebuah restoran Jawa yang terkenal dengan ayam sambal hijaunya. Aku memutuskan untuk memakai rok bercorak bunga-bunga dan kemeja berwarna putih, warna favoritku. Tampak sederhana memang, tapi inilah aku.

            Aku berjalan pelan menuju meja nomor 7 yang letaknya agak menyudut. Melihat apakah ibu Prama sudah datang, atau aku yang harus menunggu beliau. Beliau ada disana, sedang duduk dengan majalah ibu-ibu yang ada di tangannya, memandangi gambar menarik yang ada di hadapannya. Ah usianya sudah 60 tahun aku rasa, namun ia tetap cantik. Hidung mancungnya sama seperti hidung Prama yang selama ini aku lihat di foto, dan di webcam. Ternyata ibu Prama tidak sendiri, seorang lelaki yang juga sudah berumur duduk di sampingnya. Sedang berbicara melalui ponselnya.

            “Iya, bapak nggak nanya yang aneh-aneh,” Ujar bapak itu sambil tersenyum, “Iya, Prama bapak sama ibu sudah sampai.”

            Deg.

            Berarti benar mereka adalah ibu dan ayah Prama.

            Aku berhenti di dekat meja mereka, membuat ayahnya melihat ke arahku dan beliau bertanya “Dek Trini? Pacarnya Prama?” Yang aku balas dengan anggukan.

            “Ini sudah ini, Trini sudah datang.”

            Ibu Trini berdiri, mendekatiku. Kemudian aku mencium tangan yang wangi itu, yang menatapku penuh sayang. Seperti rasanya ini bukan kali pertama kami bertemu.

            “Yasudah kamu ganggu deh, Pram. Bapak kan mau ngobrol sama Trini.” Kemudian beliau menutup telepon itu, yang aku tahu orang yang diajak ngobrol penasaran dengan pertemuan kami pagi ini.

            Aku mencium tangan beliau, disusulnya dengan senyuman juga. Kami kemudian duduk di sana, jantungku semakin tidak karuan pagi itu.

            “Kamu cantik, mukamu ayu seperti wanita Jawa.” Ujar Ibu Prama terlebih dahulu.

            “Ibu juga pasti lebih cantik sewaktu seumuran Saya.”

            Kemudian semua yang aku takutkan hilang, semua rasa tidak karuan yang aku rasakan sejak malam dimana Prama mengatakan ibunya ingin bertemu dengankupun hilang. Semua berjalan terlalu sempurna, mengobrol tentang daerah asal orangtuaku, tentang bagaimana awalnya Prama mengenalku, tentang bagaimana keadaanku yang tinggal sendirian di Jakarta.

***

            Dan akhir-akhir ini segalanya selalu terasa sempurna, dengan rasa takut yang menghampiriku setiap harinya. Aku takut dengan segala hal yang terlalu membahagiakan, karena siapa yang tahu ujungnya akan bagaimana? Dan seolah semua kenangan dua tahun lalu, saat aku belum mengenal Prama terlihat lagi. Saat semuanya diawali dengan hal-hal yang terlalu membahagiakan, seperti saat ini.

            Saat itu usiaku masih 25 tahun. Saat dimana aku masih rajin bekerja di klinik sana-sini karena masih baru sekali menjadi dokter. Saat segala impian rasanya ingin aku wujudkan satu-persatu, termasuk keinginanku sewaktu kuliah dulu. Aku ingin menikah di usiaku yang ke-25.

            Saat itu semuanya terasa mermbahagiakan, saat ia yang bernama Bagas mengajakku mengelilingi Bali bagian Selatan siang itu. Kami sedang berlibur ke Bali, bersama beberapa dokter Internship sepertiku yang baru saja menyelesaikan masa kerja di Rumah Sakit, dan beberapa perawat UGD yang mengambil cuti hari raya mereka.

            Bagas menyewa sebuah motor matic untuk kami gunakan siang itu, “Ayo Trin, sesekali kita duet travelling, masa aku harus muterin Bali sendirian? Happiness seems right when we shared, right?

            Aku mengangguk mengiyakan ajakannya, memakai celana jeans dan kaos polos berwarna putih dan tak lupa menenteng kamera yang selalu aku bawa kemana-mana. Kami mengelilingi Bali Selatan siang itu, aku dan dia. Rasanya ingin berteriak saking senangnya.

            “Kok bisa?” Tanyaku sambil menunjuk sepeda motor itu.

            “Oh, tadi aku ke penyewaan motor. Lumayan murah dan cepat kan. Daripada mobil diisi berdua dan macet kan pemborosan.” Jawabnya enteng.

            “Tapi kalau mobil kan, nggak duet travelling gini.”

            “Aku lagi pengen jalan sama kamu.”

            Dan Bali menyambut kami dengan panas yang semakin lama semakin berkurang, menuju ke senja yang kekuningan menerangi Kuta.

            “Bagas, kita nikmatin sunset dulu gimana?”

            “Tadinya aku mau ngajak kamu ke Sanur lewatin Sukowati, terus Gianyar deh.”

            “Kita foto-foto disini aja gimana? Lanjut Bebek Bengil?” Tanyaku merayu, aku memang ingin memotret Kuta, karena sejak kemarin kami terlalu lelah berburu oleh-oleh tanpa sempat melihat sunset.

            “Call!” Ujar Bagas, yang setahuku sangat menyukai segala bentuk bebek matang.

***

            Kami menikmati Bebek Bengil di Nusa Dua malam itu, Bagas memesan duck spring roll sementara aku memesan cumi goreng bumbu Bali. Suasananya begitu ramai, banyak sekali pengunjung yang datang. Kebanyakan datang bersama keluarga mereka, beberapa datang sendiri. Mungkin ingin menikmati malam yang terlalu sayang untuk dilewatkan dengan tidur di balik selimut hotel yang super nyaman.

            “Besok kita ke Jakarta banget nih, Trin?”

            “Iya haha, pasti mulai sibuk ngurus cari kerja lagi. Adaptasi lagi, kenalan lagi sama orang-orang Rumah Sakit, mungkin bahasa baru lagi kalau kita apply keluar daerah.” Jawabku sambil tersenyum.

            “Aku harus balik ke rumah ayahku, Trin.”

            Aku menghentikan makanku sejenak, menarik napas panjang. Mulai merasakan sesuatu yang janggal dalam percakapan mala mini. “Padang?”

            “Iya, dan harus stay disana. Rumah Sakit yang ayahku bangun lagi butuh aku. Rumah Sakit swasta di daerah itu, nggak semulus di Jakarta. Aku harus dinas disana, sekaligus bantu ayah. Kakakku juga sudah dinas disana.”

***

            Dan malam itu, menjadi malam terakhir kami berkomunikasi. Komunikasi dua arah lebih tepatnya. Saat Bagas sudah sampai di Padang, beberapa kali di sela waktu senggangku, aku masih mengiriminya pesan. Menanyakan kabarnya, atau keadaan Rumah Sakit milik keluarganya. Atau sekedar memanggil namanya saja. Tapi semuanya sia-sia, tidak ada balasan yang datang.

            Enam bulan yang aku perlukan untuk mencari tahu keberadaannya, mencari tahu kebenaran akan semua yang dia gantungkan. Hidupku menjadi kacau sekali saat itu. Hanya bekerja Senin – Rabu, selebihnya aku habiskan membaca buku dan mengunjungi sahabatku Utami di akhir pecan. Menangis di kamarnya, menceritakan betapa rindunya aku dengan Bagas yang dulu selalu ada.

            Sampai akhirnya Utami mendapat kabar dari pacarnya yang sempat berkunjung ke Padang untuk menghadiri seminar kalau Bagas sudah menikah.

            “Karena aku dijodohin, dan aku suka sama kamu waktu itu jadi aku lebih baik pergi daripada membebani kamu.” Ujar Bagas malam itu, saat aku meneleponnya menggunakan nomor Utami dan berbagai permintaan maaf lainnya yang terdengar parau di telingaku.

            Sampai akhirnya aku bekerja siang-malam demi menghilangkan ingatanku tentang Bagas, sampai aku asyik dengan pekerjaanku. Dan aku tidak menyadari sudah tiga tahun semenjak kejadian itu ada. Kemudian Prama datang.

***

            Ibu memberikanku tiket liburan ke Bali untuk 3 hari kedepan. Agar aku tidak suntuk dengan pekerjaan, ujarnya. Ibu dan ayahku tidak pernah tahu ada kenangan apa yang ingin aku lupakan di Pulau ini. Tapi justru kesinilah aku akan datang, dan melupakan semuanya.

            Bali sudah banyak berubah, panasnya semakin terik aku rasa. Dan wisatawan asing semakin banyak yang datang. Jalanannya-pun lebih ramai, kerajinan tangan yang dijual di pinggiran Kuta-pun makin bervariasi.

            Solo travelling menjadi pengalaman baru bagiku, bisa menikmati Jimbaran sepuas yang aku mau, bahkan aku bisa memotret pemandangan Tanah Lot dengan puas, dan kembali ke hotel di dekat Kuta sore harinya.

            Aku duduk di salah satu kursi di Bebek Bengil Nusa Dua malam itu, menikmati Black Russian Pie yang aku pesan setelah menghabiskan sepiring Grilled Thai Chicken Wings.Mungkin orang di meja sebelah akan memandangku takjub kalau pelayan tidak mengangkat piring bekas appetizer yang kuhabiskan dengan cepat.

            Aku menoleh ke meja sebelah itu, seseorang yang membaca koran di malam hari. Bukankah terlalu terlambat membaca berita di malam hari? Pikirku.

            “Mas, Saya pesan yang dimakan sama mbak yang disebelah.” Ujarnya sopan pada pelayan yang tadi membersihkan mejaku.

            Aku menoleh malas memandangnya, penasaran dengan wajah pria aneh yang ada di meja itu.

            Wajah itu perlahan terlihat saat koran yang sedari tadi ia pegang, ia lipat dengan rapih. Prama. Wajah itu mitip sekali dengan Prama versi foto dan video call yang selama ini kami gunakan untuk berkomunikasi.

            “Hai, Trini. Saw me already?”

            Dan benar ternyata Prama yang duduk disana, yang sedetik kemudian duduk di hadapanku sambil tersenyum. Menepuk bahuku yang kaku karena masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

            “Kamu?” Tanyaku tak percaya.

            “Iya aku disini, duduk di tempat makan yang kamu ingin lupakan. Di Bali yang selalu kamu jauhin dari list liburan kamu tiga tahun belakangan.”

            “Prama?” Tanyaku lagi, masih belum paham dengan apa yang terjadi.

            “Aku mau memulai dengan kamu di tempat kamu mengakhiri sesuatu, aku nggak mau kamu mengubur kebahagian kamu di tempat yang terlalu sayang untuk jadi tempat sampah kesedihan kamu. Trini, aku sudah disini dan please, only thinking about your happiness. Throw away those sadness.”

            “Aku masih nggak percaya akhirnya kita ketemu, Pram.”

            “Akupun sama, tunggu aku beberapa bulan lagi ya sayang. Sampai masa bhaktiku di Sorong habis, kita bisa stay disini atau kita tinggal di Jakarta.” Ujarnya dengan santai. “Ibu dan bapakku sedang menemui orangtua kamu di Solo, sekarang. Mereka meminta izin untuk melamar satu-satunya anak mereka yang sekarang duduk di hadapanku.” Prama meraih tanganku yang masih memegang garpu diatas piringku, “Marry me, please?”

***

            Dan aku tidak ragu lagi dengan berbagai momen yang terlalu membahagiakan belakangan ini. Akupun tidak takut dengan masalah yang ada, toh setiap masalah justru menguatkan kita bukan? Terimakasih untuk kebahagiaan yang penuh penantian panjang ini, Tuhan. Menunggu sampai usiaku setua ini, menunggu demi kebahagiaan ini, aku sama sekali tidak lelah Tuhan.

*SELESAI*

 

 

 

 

Tagged , , , , , , ,

KELUARGA 1983

Salah satu cara menyenangkan diri sendiri adalah, menyenangkan teman kita.

“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“ 

HR at-Tirmidzi (no. 1956), Ibnu Hibban (no. 474 dan 529) dll, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, dan dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “ash-Shahihah” (no. 572).

            Entah bagaimana Allah mempersatukan banyak sekali manusia dalam bentuk keluarga yang tidak biologis, yang Saya sebut teman.

Belakangan ini well Alhamdulillah sudah lebih dari 1 bulan Saya mengenal mereka, 29 wanita hebat yang menjalin silahturahmi lewat Qur’an. Rata-rata usianya-pun jauh diatas Saya dan itu yang membuat Saya kagum pada mereka, tetap istiqomah dibalik kesibukan mengurus ‘bangku kanan’ aka suami dan anak. Beberapa diantaranya-pun ada yang lebih muda ahh andai dulu Saya bisa begitu semangatnya seperti dia saat 2-3 tahun lalu dalam membaca Qur’an.

Seperti halnya sulit bagi wanita memakai jilbab, membaca Qur’an satu juz dalam satu hari memiliki tantangan tersendiri, khususnya Saya sendiri. Sebelum Saya bergabung dengan orang-orang hebat ini, Saya sempat beralasan ‘sedang stase besar di koass dan mungkin sulit untuk khattam tepat waktu,’ ah poor me. Sampai akhirnya Saya mencoba dan ternyata bisa, ternyata kalaupun telat… ada 29 shalihah yang membantu dan terus mensupport. Setiap kepala mempunyai kesibukan itu pasti, tapi sesibuk apapun kita mengejar dunia… ibadah tetap utama bukan?

Saya belajar banyak dari 29 wanita hebat ini. Ada yang tinggal di ujung Indonesia sana, bahkan ada yang tinggal di Jerman. Entah mengapa jarak tidak mengalahkan ukhuwah yang terjalin. Saling bercerita pengalaman yang ditemukan di sekelompok orang hebat ini membuat Saya sadar kalau Islam itu amat indah.

Beberapa diantaranya bahkan tidak puas dengan hanya membaca satu juz dalam satu harinya, berlomba-lomba membaca juz bagi siapa yang sedang menstruasi. Saya merasa sama sekali tidak ada apa-apanya, Surga masih terasa jauh bagi Saya. Satu juz sehari saja puas? Astaghfirullohal’adzim.

Kemudian Saya terkagum dengan bagaimana mereka haus akan ibadah, belum lelah dengan Qur’an, mereka memutuskan untuk sholat tahajjud tiap malam, saling mermbangunkan via telepon dan media komunikasi lainnya. Subhanallah, remember that most of them have a baby and let me give you some times to think about their spirit. Pagi beres-beres rumah, masak untuk anak dan suami, belum yang harus mengantar anak ke sekolah atau mengganti popok bagi yang anaknya masih bayi, belum berbagai pekerjaan rumah yang harus dilakukan plus ibadah lain dan malampun masih ingin bangun tanpa merasa lelah untuk tahajjud?

Dalam berbuat baik, lihat mereka yang lebih baik maka kamu tidak akan sombong. Itu yang mama Saya pesankan kepada Saya. Dan disini Saya merasa kecil, masih banyak tikungan yang Saya lirik untuk menempuh jalan yang seharusnya lurus tanpa belokan atau polisi tidur. Masih banyak ibadah yang harus dilakukan agar mengurangi minus dari dosa yang tanpa manusia sadari sebenarnya sudah mereka lakukan.

Begitu mudah kita beribadah di Indonesia, tidak ada pandangan aneh dari orang saat kamu mengeluarkan Qur’an atau android berisi Qur’an digital di bus atau di transportasi public lainnya. Tidak ada mereka yang mencemoohmu lantaran kamu berjilbab, ah jangankan berjilbab disini melihat wanita bercadar saja sudah dianggap biasa.

Sementara mereka yang hidup di Negara yang untuk mencari masjid saja sulit, mereka tetap berusaha mereka tetap beribadah. Mereka yang saat subuh kedinginan namun tetap bangun tidak seenak kita yang suhu subuh tidak terlalu dingin namun kasur rasanya lebih menyenangkan.

Menjadi agen dakwah sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja, oleh tua renta yang hanya duduk diam di masjid untuk sholat yang akhirnya menginspirasi banyak orang. Atau seperti mereka para siswa atau mahasiswa yang mengikuti organisasi Islami dan tidak lelah menghabiskan waktu untuk rapat dalam rangka menyusun sebuah acara untuk mensyiarkan Islam di sekolah atau kampus mereka. Atau lewat foto yang di design sedemikian menarik dan berisi hadits atau kalamullah yang membuat orang lain ingin membaca tulisannya.

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS. Fushshilat [41]: 33)

            Jangan pernah puas dalam berdakwah, dalam mengajak orang lain ke dalam kebaikan. When you read this one, I did some chat with those 29 pretty sister and I love them more. Terimakasih untuk semua pengalaman menyenangkannya 29 akhwat cantikku.

Teruntuk kalian yang menjadi dekat karena Qur’an, keluarga 1983; Mbak Mimin, Mbak Nisa, Mbak Fitri, Mbak Liena, Mbak Eva, Mbak Uum, Mbak Salwa, Mbak Haya, Mbak Rita, Mbak Rani, Mbak Ratu, Mbak Noor, Mbak Mutia, Mbak Tatik, Mbak Paya, Mbak Tanti, Mbak Meri, Mbak Sefa, Mbak Ummu Amar, Mbak Lila, Mbak Lina, Mbak Ayen, Hevi, Mbak Syarah, Mbak Nana, Mbak Febri, Bu Yuli, Mbak Rosa, dan Mbak Neneng. Semoga tetap menginspirasi Saya, keep istiqomah insyaAllah.

Tagged , , , , , , , , , , , , ,

NIKAH-things (untuk Kak Connie dan Kak Qurtubi)

Pertama-tama, tulisan ini dikhususkan untuk kalian dr.Connie Raina Carissa dan dr. Muhammad Qurtubi Ali yang saat ini sedang sibuk menyusun persiapan pernikahan. Mohon maaf jika tulisanku kurang mendeskripsikan ya.

***

Seperti yang sudah Allah.. Pencipta Saya dan Anda semua janjikan, manusia diciptakan berpasang-pasangan. Menurut Saya urusan jodoh dan menikah sudah menjadi one of the most chitchat that you have to do with your bestfriend, well maybe in some people it didn’t happen but for me and my friends that’s actually happened. Cari coba mahasiswa yang duduk di semester akhir yang masih belum memikirkan ke arah sana, setidaknya.. akan muncul pertanyaan ‘sama siapa gue menikah?’ atau pernah kan mikir bakal nikah sama your fave idol? Pardon me for these kid-brain-way-of-see-something.

Yang Saya tahu, Allah nevel fail His promise dan itu tertulis di Al-Qur’an. Mungkin kamu lebih tahu, reader.

Well, Saya akan bercerita mengenai sesuatu yang yah cheesy but incredible things called pernikahan. Ini kisah nyata mengenai dua teman dekat Saya sendiri.

***

April 2013 Saya wisuda, have I mention it before in my previous post? Beberapa hari menjelang hari luar biasa di tahun 2013 itu, Saya memperkenalkan seorang senior di kampus bernama Connie–yang biasa Saya panggil dengan Kak Connie dengan seorang kakak yang Saya kenal melalui jejaring social bernama Qurtubi.

Percaya atau tidak saat Saya menulis cerita ini, Saya sudah mendapat soft copy wedding invitation dari mereka. Curious?

Ya, dan perkenalan diantara mereka berawal dari sana. Berawal dari ide iseng Saya yang ingin mengenalkan keduanya. Setelah mempertimbangkan asal usul mereka yang sama, Saya dengan iseng memperkenalkan keduanya. Secara akal nggak logis memang, Saya yang sudah mengenal Kak Qurtubi lewat dunia maya selama kurang lebih 1,5 tahun saat itu mengenalkannya dengan seorang Kak Connie yang Saya sangat tahu kakak ini seperti apa. Saya belum pernah bertemu dengan Kak Qurtubi sebelumnya then why I have to let my-one-of-the-best-senior-know-and-meet-him? Ada rencana Allah ternyata disitu, yang Saya sendiri-pun baru menyadarinya sekarang. Dan Saya tahu, ada kasih sayang Allah lagi untuk Saya bila mereka benar-benar menikah. Allah Maha Penyayang.

Perkenalan diantara keduanya dimulai 30 April 2013.

Berbeda dengan biasanya, dua orang ini berkenalan dengan cara yang Islami sih menurut Saya pribadi. Mereka nggak mau tuh nge-add bbm contact masing-masing, sebelumnya berkenalan via conference antara kami bertiga. Haha pardon me Kak Connie and Kak Qurtubi I let my blog show this. Duh pokoknya sulit dipercaya mereka bisa menikah karena perkenalannya yah via bbm doang.

Sampai sekian hari berlalu dan pembicaraan yang tadinya harus ada Saya disitu yah meski sebagai pengamat saja, kemudian berubah menjadi personal chat. Dan beberapa Minggu kemudian Saya dikabari kalau kedua kakak Saya itu sudah saling mengenalkan diri masing-masing ke keluarga mereka. Lucu saat Kak Connie bercerita bahwa Kak Qurtubi tidak se-kalem kelihatannya, karena kak… Aku aja belum pernah ketemu haha.

Hebat saat mendengar kalau orangtua Kak Connie entah mengapa welcome sekali terhadap masuknya nama Kak Qurtubi ke kehidupan putri sulungnya. Hebat saat mendengar kakaknya Kak Qurtubi-pun yang ramah dan akhirnya mengenalkan kak Connie ke orangtua Kak Qurtubi. Ah even I knew all of this. Lucu mengingat bagaimana Kak Qurtubi cerita, dan hal yang sama juga diceritakan oleh Kak Connie sesudahnya. Apa ya semacam mendengar cerita bersejarah 2x tapi Alhamdulillah tidak bosan, dan saat itupun Saya belum mengetahui rahasia Alllah yang ada dibaliknya.

Saat Saya sedang asyik berlebaran di kosan-pun, mereka menghubungi Saya mengenai pertemuan keluarga dan lainnya. Ah hiburan tersendiri buat Saya yang betapa kangen sama keluarga karena harus lebaran sama pasien di RS.

Kak Connie, Saya kenal sama kakak ini di hari ulangtahun Saya yang ke-18. 28 Oktober 2009 kami berkenalan secara resmi, menghindar dari ngambek karena ditinggal teman-teman se kosan yang entah kemana (dan ternyata sedang menyiapkan surprise untuk Saya) di hari special saya… Saya memutuskan makan waffle di Mal Kelapa Gading malam itu bersama sahabat Saya Nurrisya, Fenia (adik yang baru hari itu Saya kenal dan sekarang juga sudah menjadi inspirator Saya), dan Kak Connie. Pertemuan yang sangat canggung karena Saya biasanya sulit akrab dengan senior.

Dari situ Saya mengenal kakak ini sebagai seorang kakak yang pintar, yang sholehah, yang prinsipil, yang tegas, yang senyumnya nggak mahal, yang baik ke adik kelas, dan kamarnya selalu rapih. Kami sering bekerjasama di seminar atau apapun kegiatan mahasiswa dan dari situ Saya-pun tahu beliau adalah pekerja keras. Beliau menjadi inspirator nomor sekian dalam hidup Saya. Beliau juga selalu sabar mendengarkan keluhan Saya, ah betapa banyak keluhan yang Saya sering ceritakan ke Beliau ini. I LOVE YOU SISSY.

Kak Qurtubi, well actually for this one the story seems weird since we never met each other but I know that he’s such a good man and good brother for me. Yang Saya tahu sih, kakak ini so-brother-well-for-me. Semacam mendapat hadiah dari Allah berupa kakak. Selalu mendengar kalau Saya cerita, selalu memberikan saran positif, bahkan bisa marah jika Saya diperlakukan dengan kurang baik oleh seseorang. Dan well manner enough saat kami akhirnya bertemu, kami including Kak Connie of course and my whole family. They already met my family. Dan entah kenapa kalian membuat Saya memiliki 2 orang kakak hebat. Saya merasa benar memperkenalkan kakak-kakak ini.

Sampai ayah dan ibu Saya berkata, “Bener deh kamu ngenalin mereka,”

Hingga beberapa hari lalu Saya mendapat seragam untuk pernikahan mereka, sampai wedding invitation yang Saya dapat hari ini Saya-pun semacam tidak percaya dengan keajaiban yang Allah tunjukkan. Seolah-olah Allah memperlihatkan langsung kepada Saya ‘Dika, wanita yang baik untuk pria yang baik.’ Saya tahu keduanya orang yang baik, dan Saya entah perasaan ini muncul dari mana merasa senang dengan kebahagiaan kalian.

***

Tinggal menunggu hari, hari ini 12 Maret 2014 sampai hari akad kalian insyaAllah 26 April 2014. Tetaplah menjaga doa, tetaplah sabar dan tetaplah percaya ada Allah disana, dan ada malaikat disana yang berjaga. Saya bahagia sekali kak. Thank’s for being a part of my life as human being. Saya mengenal Allah lebih dekat melalui rahasia dibalik kisah kalian, semacam dipeluk oleh Allah.

***

Dear readers, kita nggak pernah tahu ada apa dibalik jam yang sudah kita lewati. Dibalik perkenalan dengan orang lain yang sudah kita jalani, dibalik senyum seseorang dalam fotonya yang sama sekali tidak kita kenal dan who knows ternyata dia adalah nama yang disiapkan kepada kita kelak. Kita nggak pernah tahu lewat jalan mana Allah memberikan kita perkenalan kepada calon kita kelak. Rahasia Allah begitu indah, jalannyapun tidak semudah menemukan dimana toko buku berada. Jalannya sesulit mencari kenyamanan yang didapat di rumah sendiri. Hanya butuh perbaikan diri, kesabaran, dan doa untuk menuju kesana. Ketaatan kamu yang membuat kamu dicintai.

            “Ingatlah, Aku telah memberitahu kalian tentang istri-istri kalian yang akan menjadi penduduk surga, yaitu yang penyayang, banyak anak, dan banyak memberikan manfaat kepada suaminya. Yang jika ia menyakiti suaminya atau disakiti, ia segera datang hingga berada di pelukan suaminya kemudian berkata; ‘Demi Allah aku tidak bisa memejamkan mata hingga engkau meridhaiku’.” (HR Baihaqi)

            Akan ada jawaban melalui jalan yang tidak disangka-sangka.

***

Tagged , , , , , , , , , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 30 other followers